Main Article Content

Abstract

Hutan Wanagama I Gunungkidul memiliki topografi yang berbukit-bukit dan berlereng sehingga berpotensi tinggi menimbulkan erosi. Kombinasi tebal hujan yang relatif tinggi dan keadaan topografi dengan kemiringan curam berperan penting untuk menghasilkan aliran permukaan yang dapat menimbulkan erosi. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan antara tebal hujan terhadap aliran permukaan, aliran permukaan terhadap erosi, dan tebal hujan terhadap erosi dengan menggunakan analisis regresi linear sederhana. Di Hutan Wanagama I banyak terdapat lahan rumput Kolonjono (Brachiaria mutica) yang ditanam oleh masyarakat sekitar. Oleh karena itu, sangat mendesak untuk dilakukan penelitian erosi pada lahan rumput Kolonjono tersebut untuk menghindari terjadinya degradasi lahan.  Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode plot kecil untuk menganalisis tingkat erosi dan aliran permukaan. Pada penggunaan lahan rumput dibuat 3 plot kecil berukuran 22 m x 4 m, yang dipasang terpisah searah lereng, masing-masing mewakili bagian atas, tengah, dan bawah lereng. Hasil penelitian menunjukkan bahwa erosi selama penelitian tergolong sangat rendah, pada plot atas sebesar 52,52 kg/ha, pada plot tengah sebesar 48,44 kg/ha, dan pada plot bawah sebesar 57,90 kg/ha. Tebal hujan sangat memengaruhi aliran permukaan dan aliran permukaan sangat memengaruhi erosi. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa aliran permukaan selama penelitian pada plot atas sebesar 18,26 mm dengan koefisien aliran permukaan sebesar 0,0482, pada plot tengah sebesar 16,92 mm dengan koefisien aliran permukaan sebesar 0,0447, dan pada plot bawah sebesar 20,03 mm dengan koefisien aliran permukaan sebesar 0,0529 yang kesemuanya tergolong baik.

Keywords

aliran permukaan erosi hujan plot kecil Wanagama

Article Details

References

  1. Anache, J.A.A., Edson, C.W., Paulo T.S.O., Dennis, C.F. & Nearing, M.A. (2017). Runoff and Soil Erosion Plot-scale Studies Under Natural Rainfall: A Meta-analysis of the Brazilian Experience. Catena, 152, 29–39.
  2. Anonim. (2009). Peraturan Direktur Jenderal Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial No. P.04/V-SET/2009 Tentang Pedoman Monitoring dan Evaluasi Aliran Sungai. Jakarta: Kementerian Kehutanan Republik Indonesia.
  3. Arsyad, S. (2010). Konservasi Tanah dan Air. Bogor: InstPertanian Bogor.
  4. Blandon, P. (1985). Agroforestry and Portfolio Theory. Agroforest Syst, (3), 239–249. https://doi.org/10.1007/BF00046957.
  5. Doke, M.A., Kusumandari, A. & Senawi. (2018). Tingkat Erosi dan Rancangan Konservasi Tanah dan Air di Sub DAS Waewoki, DAS Asesa. Jurnal Manusia dan Lingkungan, 25(1), 7-17.
  6. Ernawati, J. (2016). Jejak Hutan Wanagama. Jakarta: Deutsche Gesellschaft Fur Internationale Zusammenabeit (GIZ) GmBH Forest and Climate Change Programme (Forclime).
  7. Evans, B.A., Collins, R., Zhang, A.L., Foster, Y., Boardman, I.D.L., Sint, J., Lee, H. & Griffith, M.R.F. (2017). A comparison of conventional and 137Cs-based estimates of soil erosion rates on arable and grassland across lowland England and Wales., Earth-Science Rev. J, 173, 49–64.
  8. Fiener, P., Wilken, F., Aldana-Jague, E., Deumlich, D., G´omez, J.A., Guzm´an, G., Hardy, R.A., Quinton, J.N., Sommer, M., Van Oost, K. & Wexler, R. (2018), Uncertainties in assessing tillage erosion – How appropriate are our measuring techniques?, Geomorphology doi:10.1016/j.geomorph.2017.12.03
  9. Hardjowigeno, S. (2011). Evaluasi Kesesuaian Lahan dan Perencanaan Tataguna Lahan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
  10. Kertis, T.A. & Livari, C.A. (2006). Soil Erosion on Cropland in the United States: Status and Trends for 1982-2003. Proceedings Eighth Fed. Interag. Sediment. Conf. (8thFISC), Reno, NV, USA.
  11. Kusumandari, A. (2013). Buku Ajar Konservasi Tanah dan Air. Laboratorium Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Yogyakarta: Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan. Fakultas Kehutanan. Universitas Gadjah Mada.
  12. Liu, Y., Xin, Y., Xie, Y., & Wang., W. (2019). Effects of Slope and Rainfall Intensity on Runoff and Soil Erosion from Furrow Diking under Simulated Rainfall. Catena, 177(June), 92–100. https://doi.org/10.1016/j.catena.2019.02.004
  13. McConkey, B.G., Lobb, D.A., Li, J. M. W. B. S. & Krug, P.M. (2010). Soil Erosion on Cropland: Introduction and Trends for Canada. Canadian Biodiversity: Ecosystem Status and Trends. Technical Thematic Report No. 16 Published by the Canadian Councils of Resource Ministers.
  14. Nearing, M.A., Xie, Y., Liu, B., & Ye, Y. (2017). Natural and anthropogenic rates of soil erosion. Int. Soil Water Conserv. Res. 5, 77–84. http://dx.doi.org/10.1016/j.iswcr.2017.04.001
  15. Nurjanto, H.H., Supriyo, H., Widyastuti, S.M., Kabirun, S., Johan, E., & Matsue, N. (2016). Smectite Under Heavy Clay Soils Development at FRE Wanagama Forest Area. Malaysian Journal of Soil Science, 20(May), 1–18.
  16. Ratnaningrum, Y.W.N., & Indrioko, S. (2014). Variation on Genotypes and Flowering Characters Affecting Pollination Mechanisms of Sandalwood (Santalum album Linn, Santalaceae) Planted on ex-situ Gene Conservation in Yogyakarta, Indonesia. Eurasean J For Res, VI, 167–179.
  17. Ribolzil, O. C., Evrard, O., Huon, S., de Rouw, A., Silvera, N., Latsachack, KO., Soulileuth, B., Lefèvre, I., Pierret, A., Lacombe, G., Sengtaheuanghoung, O., & Valentin. (2017). From shifting cultivation to teak plantation: effect on overland flow and sediment yield in a montane tropical catchment. Sci. Rep., 7, 3987.
  18. Stewart, J.L. & Simons, A.J. (1994). Gliricidia sepium: a multipurpose forage tree legume., Gutteridge. UK: Forage Tree Legumes in Tropical Agriculture. CAB International, Oxon.
  19. Subagiya., Sriyono, E., & Achmad, N. (2016). Pengaruh Erosi dan Sedimentasi Terhadap Pelestarian Layanan Umur Manfaat Waduk. Jurnal Teknik, 6(1), 22-31.
  20. Supriyo, H., Faridah, E., Atmanto, W.D., Figyantika, A., & Fajri, A. K. (2009). Kandungan C-Organik dan N Total pada Seresah dan Tanah pada 3 Tipe Fisiognomi (Studi Kasus di Wanagama I, Gunung Kidul, DIY). Jurnal Ilmu Tanah Dan Lingkungan., 9(1), 49–57.
  21. Suseno, O. H. (2004). Sejarah Wanagama I. Dalam: Pramudyo, RIS., OH Suseno, H. Supriyo, Soekotjo, M. Naiem, U Iskandar. Dari Bukit-Bukit Gundul sampai ke Wanagama-I. Yogyakarta: Yayasan Sarana Wana Jaya.
  22. Van Loo, M., Dusar, B., Verstraeten, G., Renssen, H., Notebaert, B., D'Haen, K., & Bakker, J. (2017). Human induced soil erosion and the implications on crop yield in a small mountainous Mediterranean catchment (SW-Turkey). Catena, 149, 491-504. https://doi.org/10.1016/j.catena.2016.08.023
  23. Wang, Y., You, W., Fan, J., Jin, M., Wei, X., & Wang, Q. (2018). Effects of subsequent rainfall events with different intensities on runoff and erosion in a coarse soil. Catena, 170(June), 100–107. https://doi.org/10.1016/j.catena.2018.06.008
  24. Wischmeier, W.H. & Smith, D.D. (1978). Predicting Rainfall Erosion Losses: A Guide to Conservation Planning. Washington DC: Government Printing Office.
  25. Wu, X., Wei, Y., Wang, J., Xia, J., Cai, C., & Wei, Z. (2018). Effects of Soil Type and Rainfall Intensity on Sheet Erosion Processes and Sediment Characteristics Along the Climatic Gradient in Central-south China. Science of the Total Environment, 621, 54–66. https://doi.org/10.1016/j.scitotenv.2017.11.202
  26. Yu, L., Zhang, K.Y., & Liu. (2017). Measuring and modelling soil erosion and sediment yields in a large cultivated catchment under no-till of Southern Brazil. Soil Tillage Res., 174, 24–33.
  27. Yuferev V.G., Zavalin A.A., Pleskachev Y.N., Vdovenko A.V., Fomin S.D., & Vorontsova E.S. (2019). Degradation of landscapes in the South of the Privolzhsky Upland. J. For. Sci., 65, 195-202. https://www.agriculturejournals.cz/web/jfs.htm?type=article&id=141_2018-JFS